Tampilkan postingan dengan label Ide Bisnis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ide Bisnis. Tampilkan semua postingan

Minggu

Bank Kaum Miskin

Mungkinkah kemiskinan ini bisa dilenyapkan dari hidup ini?. Jika kita menjawab "bisa" atas dasar apa?. Banyak orang berkata "bisa", dengan alasan mereka mempunyai kepercayaan pada Tuhan yang mengatakan Dia luar biasa dan akan mencukupi setiap kebutuhan kita, Dan ada yang berkata "iya!" karena dia mempunyai Tuhan yang sanggup menjawab semua do'a mereka. Pada kenyataannya kemiskinan tidak bisa dirubah atau setidaknya dikurangi hanya dengan kata "percaya", "amin" atau sejenisnya. Karena kemiskinan itu ada dalam pikiran dan tindakan yang harus dihadapi dengan pemikiran yang tepat, keyakinan yang kuat, dan tentunya tindakan yang akurat. dan jangan lupa satu hal lagi yaitu kegigihan.

Ada sebuah buku berjudul "Banker to the Poor",  yang berkisah mengenai kegigihan dan pergulatan prinsip dari seorang Muhammad Yunus dalam memberantas kemiskinan di negaranya selama lebih dari 30 tahun melalui kredit mikro. Ia seorang akademisi, lulusan terbaik dari perguruan tinggi di Amerika serikat. Perjuangan keras Yunus telah membuahkan hasil yang lebih dari sepadan : hadiah Nobel Perdamaian pada tahun 2006 untuk Muhammad Yunus dan Grameen Bank yang didirikannya. Pemberian nobel perdamaian bagi seorang dosen ekononi terbilang langka, namun memberikan pesan penting ke seluruh dunia yang sedang dilanda isu terorisme, bahwa kemiskinanlah akar masalah dari peperangan dan konflik yang terjadi di dunia ini.

Agaknya filosofi pendidikan di Amerika telah menjadi spirit perjuangan Muhammad Yunus dalam mengentaskan kemiskinan melalui Grameen Bank. Diawali dari kegelisahannya sebagai seorang dosen di Universitas Chittagong. Setiap hari, ia melihat orang melarat disekitar jalan yang dilalui saat akan mengajar. Ia merenungkan, betapa teori-teori yang diajarkan di ruang kelas tidak berdaya dalam menghadapi bencana kemiskinan dan kelaparan yang melanda Bangladesh pada tahun 1974. Juga terhadap kemiskinan disebuah desa Jobra, yang berada di lokasi sekitar lingkungan universitas. Kegelisahannya kian bertambah ketika menemukan fakta bahwa seorang wanita Desa Jobra menjadi budak belian kepada seorang rentenir, hanya disebabkan oleh pinjaman uang sebesar kuarang dari US$1. Kenyataan pahit itu, bahwa hidup dan mati seseorang hanya ditentukan oleh sejumlah "coin", hal ini mendorong Yunus untuk menemukan cara-cara baru untuk mengentaskan kemiskinan di pedesaan Bangladesh.

Perlu ada terobosan penyelesaian masalah secara struktural dan berkelanjutan. diantara beberapa solusinya adalah dengan memberikan kredit usaha bagi kaum miskin melalui lembaga perbankan. Namun disinilah inti permasalahannya : Bank tidak memberikan kredit bagi mereka yang tidak memiliki jaminan, karena resiko tidak dibayar yang sangat besar. Dengan demikian, kaum paling miskin adalah golongan yang sangat membutuhkan akses kredit bank.

Tantangan terberat Yunus adalah membalik paradikma yang dianut para bankir konvensional, tidak hanya di Bangladesh tapi diseluruh dunia. Sebenarnya, Kaum miskin punya alasan untuk mengembalikan pinjaman, yaitu untuk mendapatkan pinjaman lagi dan melanjutkan hidup keesokan harinya. Jadi menurut Yunus, jaminan terbaik kaum miskin adalah nyawa mereka!




Yunus tidak pernah menyerah untuk membuktikan keyakinannya tersebut meskipun menhadapi berbagai tantangan yang tidak mudah. Pada tahun 1983, Yunus berhasil mendirikan Grameen Bank (Bank Pedesaan), sebagai antitesa dari pendekatan yang digunakan sistem perbankan konvensional. Antitesa tersebut tercermin dalam strategi yang diterapkan Grameen Bank yang sangat bebeda dengan bank konvensional; memberikan kredit tanpa jaminan dan berbunga rendah kepada mereka yang termikiskin dari golongan miskin, sistem cicilan setiap hari sehingga tidak memberatkan saat jatuh tempo, menciptakan birokrasi yang simpel namun inovatif sehingga walau kaum buta huruf juga dapat berhubungan dengan bank, mengkhususkan diri pada nasabah kaum perempuan, membentuk kelembagaan berupa kelompok lima, menjadikan nasabah  juga sebagai pemegang saham dan komisaris dan sebagainya.

Yunus memberikan kredit yang pertama dan diutamakan adalah kaum wanita. Karena kaum wanita dianggapnya "pahlawan" bagi keluarga. Jika kaum pria memperoleh uang (baca; kredit), kemungkinan besar oleh mereka akan menggunakan uang tersebut untuk memenuhi kebutuhan konsumtif dan banyak dibelanjakan untuk kebutuhan sendiri. Seperti rokok, minuman dan lain-lain. Karena itu Muhammad Yunus menjadikan perempuan sebagai nasabah merupakan strategi yang sangat menarik.

Pembentukan "tanggungrenteng" dalam bentuk  "kelompok lima" juga merupakan kunci lain bagi keberhasilan program kredit Grameen Bank. Para nasabah diwajibkan membuat kelompok 5 hingga 6 orang.
Jika seseorang tidak mampu atau tidak bisa mengembalikan pinjamannya, kelompoknya akan dianggap tidak layak memperoleh kredit yang lebih besar di tahun berikutnya sampai masalah pembayaran bisa ditanggulangi. Dengan cara ini, tercipta insentif yang sangat kuat bagi peminjam untuk saling membantu memecahkan masalah dan mencegah terjadinya masalah. Sistem ini juga mendorong tanggung jawab pribadi yang besar untuk mengembalikan pinjaman.

Upaya yang dilakukan Yunus membuahkan hasil yang spektakuler. Program kredit mikro Grameen Bank, yang bermula dari proyek kecil di desa Jobra, saat ini telah berkembang dan menjangkau lebih dari tujuh juta orang miskin di 73.000 desa Bangladesh, 97% diantaranya perempuan. Grameen Bank telah memperoleh pengakuan dari pemerintah Bangladesh dan telah dipayungi dengan Undang-undang. Pola yang dilakukan Grameen Bank juga telah diadaptasi oleh seratus negara di lima benua. Layanan yang diberikan saat ini sangat beragam, meliputi kredit bebas agunan untuk mata pencaharian, perumaham, sekolah, dan usaha mikro untuk keluarga miskin. Grameen Bang juga menawarkan progra yang atraktif, dana pensiun, dan asuransi untuk para anggotanya. Bahkan kredit perumahan telah dipakai untuk membangun 640.000 rumah yang dimiliki secara legal oleh kaum perempuan. Secara kumulatif, Grameen Bank telah memberikan kredit sekitar US$6 miliar dengan tingkat pengembalian 99% dan telah mampu mengangkat 58% nasabah dari garis kemiskinan. Dengan fakta-fakta ini, Yunus telah membuktikan, bahwa premis kaum miskin tak mungkin bisa berdaya menghadapi kemiskinan adalah salah. Yang benar kaum miskin jika diberi kepercayaan dan kesempatan mereka akan bisa mengubah nasibnya.

Sayapun yakin kita bisa menciptakan dunia yang bebas dari kemiskinan, karena kemiskinan tidak dibikin oleh rakyat miskin. Kemiskinan diciptakan dan dilestarikan oleh sistem sosial dan ekonomi yang kita rancang sendiri, Tertulis dalam halaman 268 Kata Muhammad Yunus dalam pidato penerimaan hadiah nobel di Swedia.

Kamis

KEUANGAN dan PERMODALAN

Modal uang mutlak perlu untuk bisnis. Kalau ide ibarat kusir, maka modal adalah kudanya. Tanpa kuda, delman tidak akan pernah bergerak ke mana-mana, meski sang kusir sudah memiliki rencana indah untuk pergi tamasya keliling kota. Namun, modal uang bukan segalanya. Sikap dan pengetahuan bisa menjadi modal berharga. Kalau terpaksa butuh modal tambahan, carilah dari lingkungan terdekat.

Keperluan terhadap besarnya dana untuk masing-masing ide bisnis beragam. Ada usaha yang cukup didanai dengan tabungan sendiri, ada usaha yang membutuhkan patungan sanak saudara dan kolega, namun ada pula usaha yang membutuhkan dana dari investor atau lembaga keuangan, bahkan ada usaha yang tidak membutuhkan modal yang berupa uang atau harta benda lain alias ‘modal dengkul’.

Selain berupa uang, modal usaha juga bisa berwujud tanah, rumah, mobil dan semacamnya. Kalau mempunyai mobil minibus, umpamanya, Anda bisa memakainya langsung untuk membangun usaha antar-jemput anak sekolah. Hanya, biarpun bukan berupa uang, modal mobil itu tidak tergolong “modal dengkul”.

Modal dengkul tak selamanya berupa dengkul. Dengkul yang bisa dijadikan modal sering letaknya justru di kepala, bukan di kaki. Ya, benar, modal dengkul acap berupa pengetahuan yang bisa menjadi modal awal untuk menjalankan usaha.

Simaklah kisah Hartadi yang tinggal di kawaan Pondok Indah, Jakarta Selatan. Beberapa tahun lalu ia mendapat tawaran sebuah rumah di kawasan itu seharga Rp 800 juta. Menurut taksirannya, harga pasaran rumah yang ditawarkan itu bisa mencapai Rp 1 miliar. Itu sebabnya ia berani menawar untuk membelinya. Dasar rezeki, setelah tawar menawar, si pemilik rumah malah mau menurunkan harga . Hartadi boleh membeli dengan harga Rp 700 juta asalkan mau membayar uang muka sebesar Rp 140 juta.

Hartadi menyanggupi. Dia lalu menemui salah seorang saudaranya. Dengan janji akan segera mengembalikan uang berikut bunganya, Hartadi berhasil mendapat pinjaman Rp 140 juta dari salah seorang saudaranya. Uang itu segera dia pakai untuk membayar uang muka.

Sesudah berembuk, Hartadi membawa pemilik rumah berikut sertifikat ke bank untuk mengurus KPR. Setelah melakukan survei, bank memastikan bahwa Hartadi bisa mendapat pinjaman dengan jaminan sertifikat rumah yang hendak dibelinya. Dari bank ia malah mendapat pinjaman sebesar Rp 800 juta. Segera saja ia melunasi kekurangan pembayaran rumah. Tak lupa dia juga membayar pinjaman utangnya ke saudara sebesar Rp 140 juta berikut bunganya.

Di sakunya masih tersisa uang kurang dari Rp 100 juta. Sebagian dia gunakan untuk membayar cicilan bulan pertama ke bank, sisanya dia pakai untuk membiayai pemasangan iklan guna menyewakan rumah tersebut. Pada bulan kedua, rumah yang baru dibelinya sudah ditempati penyewa baru. Hartadi pun menggunakan sebagian uang sewa untuk mencicil pinjaman bank, serta memanfaatkan sebagian untuk kebutuhan pribadi. “Saya seperti membeli rumah Rp 1 miliar tanpa uang sepeserpun,” katanya terkekeh. “Kebetulan saya memang punya pengetahuan seputar sektor property sehingga tahu kalau ada penawaran rumah dengan harga di bawah harga pasar,” sambungnya. Kini Hartadi menjadi pengusaha rumah kontrakan mewah.

Itu sekadar contoh bahwa berbekal pengetahuan tertentu, orang bisa menjalankan usaha. Modal pengetahuan itu, dalam kasus Hartadi, dilengkapi dengan modal lain berupa jaringan personal (saudara yang mau meminjamkan dana untuk uang muka). Andaikata para konsultan wirausaha mengenal dia, pasti mereka menyebutkan “dengkul” lain yang menjadi modal Hartadi, yaitu sikap. Hartadi mempunyai sikap berani, yakni, percaya diri, yakin, memegang janji, serta serius dalam berbisnis. Modal berupa pengetahuan dan sikap yang baik dan pengetahuan yang baik, bisa jadi lebih penting dan lebih menentukan usaha ketimbang uang.

Mengukur Kekuatan Sendiri

Sayangnya, tidak semua usaha bisa dijalankan hanya dengan modal dengkul. Kalau pada saatnya anda nanti membuka usaha sungguhan, kemungkinan besar anda akan dihadapkan pada uang sebagai modal. Tak sedikit orang, malah ingin membangun usaha sendiri karena memiliki uang yang menganggur. Larisnya bisnis waralaba sekarang ini sebagian besar disebabkan oleh orang-orang semacam itu.

Masalahnya sekarang, sebenarnya berapa besar modal usaha yang harus kita alokasikan? Kalau kita punya tabungan sebesar Rp 50 juta, haruskah seluruhnya kita pakai sebagai modal usaha baru? Kalau Anda mendapat pesangon Rp 100 juta akibat PHK, patutkah semuanya kita jadikan modal bisnis anyar? Jika Anda baru saja mendapatkan warisan dari mertua sebanyak Rp 1 miliar bolehkan uang sebanyak itu dipakai semua untuk membeli franchise sebuah rumah makan terkenal?

Tak ada jawaban seragam atas pertanyaan-pertanyaan itu. Seorang karyawan yang mendapatkan pesangon Rp 50 juta akibat PHK tentu terlalu riskan kalau menggunakan seluruh pesangonnya untuk modal bisnis baru. Situasinya jelas berbeda dengan orang yang baru saja mendapat “duit iseng” berupa warisan, serta beda pula dengan situasi orang yang punya uang hasil dari menabung seumur hidup.

Memang, tak mudah untuk menetapkan berapa besar porsi modal usaha dari uang yang kita miliki. Para perencana keuangan pribadi harus memberi ancar-ancar bahwa kita mesti melunasi bermacam-macam kewajiban terlebih dahulu, seperti utang, kartu kredit, dan berbagai kewajiban lain yang mau tak mau harus dilunasi. Kita juga harus menghitung dana rutin yang digunakan untuk menghidupi diri dan keluarganya. Tak ada standar yang baku mengenai besarnya alokasi dana ini.

Beberapa pengusaha sukses memberi ancar-ancar seseorang yang masih single sebaiknya menyisihkan dana untuk cadangan ini sebanyak enam kali gaji atau pendapatan perbulan. Bagi Anda yang sudah berkeluarga, sebaiknya dana cadangan mencapai 12 kali gaji atau pendapatan perbulan.

Beberapa konsultan lain menyarankan dana cadangan tidak perlu sebesar itu. Anda hanya perlu menyediakan dana cadangan enam sampai 12 kali pengeluaran rutin perbulan. Dengan mengalokasikan dana semacan itu, kita bisa berharap agar segala resiko usaha tidak langsung berdampak pada kualitas hidup, termasuk terhadap orang yang sedang bermigrasi dari seorang pegawai menjadi wirausahawan. Asumsinya, dalam waktu enam sampai satu tahun tersebut, usaha sudah bisa menghasilkan. Ini worst case scenario.

Bisa saja bisnis yang Anda bangun langsung mendatangkan hasil di bulan pertama. Kalau itu yang terjadi, dana cadangan toh bisa disisir untuk mengembangkan usaha. Tapi, bisa saja–ini lebih sering terjadi–bisnis baru bisa menghasilkan keuntungan setelah berbulan-bulan berikutnya.

Oke, taruh kata Anda sudah menetapkan alokasi dana untuk modal, PR untuk membagi-bagi modal belum selesai. Dianjurkan agar pengusaha baru yang bermodal terbatas harus sangat hati-hati dan cermat mengalokasikan dana yang dia miliki. Sebaiknya hanya 50 % sampai 60 % dari modal yang benar-benar digunakan untuk modal awal bisnis. Kalau sampai dana digunakan semua, nalarnya, taruh kata usaha langsung gagal maka habis pula seluruh modal.

Beda cerita kalau kita masih punya cadangan modal. Andai kata bisnis awal terseok–semoga saja tidak—kita masih punya mesiu untuk mengatasinya. Kalau, toh, usaha langsung jalan, dana cadangan tadi bisa dipakai untuk pengembangan usaha.

Sudah berhasil menetapkan porsi modal awal? Kini Anda kembali mesti berhitung secara cermat dalam mengalokasikannya. Sampai tahap ini setiap bisnis memiliki karakter kebutuhan modal yang berbeda. Alokasi modal di sektor jasa , misalnya, jelas berbeda dengan bisnis restoran, perdagangan atau industri. Pengusaha juga disarankan agar mereka jangan terlalu banyak mengalokasikan modal untuk membeli barang atau kegiatan yang tak banyak memberi kelancaran bagi jalannya bisnis.

Contohnya, mendandani fisik warung atau toko tentu baik-baik saja. Cuma, jangan sampai porsinya terlalu besar sampai-sampai mengalahkan porsi pembelian barang dagangan. Begitu pula dalam merekrut karyawan. Kalau memang harus mempekerjakan pegawai, ya sebaiknya ada alokasi dana untuk itu. Namun jangan habiskan modal dengan memiliki karyawan yang banyak, tapi tak efisien.

Mengincar Sumber-Sumber Permodalan.

Usaha dengan modal kecil memang harus fokus ke arah pasar yang dibidik. Dengan modal minim, mau tidak mau banyak hal yang harus diabaikan. Alokasi biaya untuk administrasi dan akuntansi, misalnya, bisa dihemat dengan cara menangani kedua pekerjaan itu sendiri. Begitu tumbuh, kita tambahkan sedikit-sedikit, supaya berproses. Modal berputar dan ada laba.

Pebisnis pemula jangan terlalu pusing mencari sumber modal dari luar. Sebaiknya menggunakan modal sendiri, dulu. Filosofi pebisnis pemula adalah melihat potensi diri dulu. Kalau punya barang dan butuh modal, lebih baik barang itu dijual dari pada meminjam modal dari pihak lain. Modal sesungguhnya bagi pebisnis baru adalah mental untuk memulai usaha dari tingkat paling bawah. Kalau belum berani mendorong gerobak, berarti tidak siap.

Pengusaha juga dianjurkan untuk memaksimalkan sumber daya sendiri dulu. Cara untuk meningkatkan modal internal, bukan dengan meminjam, tapi meningkatkan volume usaha dan menaikkan nilai tambah produk. Kalau omzet meningkat, keuntungan bertambah, modal yang dimiliki juga semakin banyak.

Benar, kini bank-bank beramai-ramai menawarkan kredit untuk modal usaha kecil dan menengah. Tapi, menurut beberapa pengusaha, prakteknya tidak segampang bunyi brosur. Beberapa pengusaha mengaku bisa mendapatkan pinjaman bank setelah bisnisnya berumur delapan tahun. Artinya, setelah usahanya menunjukkan prospek jelas, baru bank mau membiayai pengembangannya.

Bagi pebisnis pemula, pihak yang bisa diharapkan menjadi penolong dalam soal modal justru orang-orang dekat, baik teman atau saudara. Memang untuk pertama kali usaha sangat disarankan untuk modal pinjam dari mereka. Alasannya, karena kedekatan hubungan biasanya mereka mau mengambil resiko yang tidak mau diambil bank. Malah, tidak sedikit kasus mereka bersedia memberi pinjaman karena ingin menolong. Dus, kita mungkin mendapat keleluasaan waktu untuk mengembalikannya.

Jalan lain mengatasi kekurangan modal adalah menggandeng mitra. Lagi-lagi tawaran ini sebaiknya kita lontarkan untuk keluarga dan teman-teman dulu. Peluang mendapat sambutan dari mereka lebih besar ketimbang kita menawarkannya kepada orang yang baru kita kenal. Dengan menawarkan kepada keluarga, kita juga lebih bisa menakar risiko ketimbang bermitra dengan orang asing sama sekali.

Mereka bisa menjadi mitra aktif, bisa juga bertindak sebagai sleeping partner alias mitra yang hanya ikut urun modal. Modal yang bisa mereka setorkan juga bermacam-macam, bisa uang tunai, tanah, gedung, ruko, kios, peralatan dan seterusnya. Konsekwensinya, Anda harus mau berbagi keuntungan dengan mereka.

Tak ada aturan baku hitung-hitungan bagi hasilnya. Cuma, kalau si mitra hanya menjadi sleeping partner, bagian keuntungan lebih banyak menjadi hak Anda, misalnya 70 : 30. Bagaimana pun keuntungannya tetap lebih banyak daripada bunga bank. Itu pun biasanya terjadi kalau modal 100 % dari sleeping partnerf. Kalau modal si mitra hanya 50 % terus dia hanya tidur, ya jatah keuntungan dia bisa diperkecil lagi. Tapi, semua tergantung dari jenis bisnis dan kesepakatan.

Rabu

Cara meningkatkan hasil penjualan toko

“Saya ibu rumah tangga yang mempunyai usaha toko kelontong dan konter HP di Boja. Dari pengamatan saya tiap hari, hasil konter lebih banyak daripada hasil toko. Untuk itu saya ingin menanyakan:
1)Bagaimanakah caranya meningkatkan hasil penjualan toko yang cenderung tetap (stagnan), mengingat lingkungan saya banyak toko?
2)Tetangga saya bilang harga barang di toko saya paling murah dan lengkap tapi kok tetap tidak laris? Apa sebaiknya saya membuat semacam mini market agar toko saya lebih menarik?”.
Perkembangan usaha umumnya dan terutama pada toko tergantung pada penjualan. Sedangkan penjualan ditentukan dari dua hal yaitu pembeli dan penjualan. Dari sisi penjual peningkatan penjualan dapat dilakukan dengan menaikkan harga yang hal ini tidak mungkin dilakukan oleh toko, karena produknya standar dan banyak pesaing. Yang kedua adalah meningkatkan jumlah barang yang dijual yaitu dengan bisa dengan mempercepat putaran persediaan barang, dengan demikian menjual barang yang cepat laku lebih banyak, meskipun demikian juga tidak mudah karena toko untuk kelengkapan juga harus menjual barang yang lambat laku.
Teknik lain yang banyak digunakan agar barang cepat laku bisa dijual lebih banyak dengan memperbesar toko, hal ini banyak dilakukan oleh toko-toko atau minimarket sampai supermarket raksasa. Bila barang yang disajikan lebih banyak, maka diharapkan penjualan akan meningkat. Bila lokasi terbatas, maka penataan harus rapi dan memanfaatkan ruang sampai menyentuh langit-langit.
Ditinjau dari pembeli, pemilihan barang cepat laku juga perlu diteliti, disamping sembilan bahan pokok (sembako) dan rokok, barang mode/modis juga cepat laku, tapi juga cepat menurun penjualannya. Untuk itu bisa dipertimbangkan untuk menambah persediaan. Misalnya, pin, souvenir film kartun, cokelat Valentine, dsb. Produk lain akan mengikuti musim, misalnya musim anak sekolah, berarti kebutuhan sekolah akan naik, dekat puasa berarti kebutuhan buka puasa akan meningkat. Dan banyak peristiwa musiman lainnya.
Persaingan memang selalu ada. Untuk itu perlu dicermati keunggulan dalam berusaha. Supermarket atau toko lain mungkin memiliki jam tertentu. Jam atau waktu adalah faktor yang dapat dipakai keunggulan. Ada toko yang menjual sebelum toko lain buka, mungkin pukul 5 pagi. Ada toko yang tetap buka meskipun toko lain sudah tutup.
Harga murah memang menjadi pertimbangan, tetapi kalau pelanggan tidak mau datang, atau sedikit yang datang berarti ada permasalahan lain. Ada toko yang memberi harga murah pada barang yang paling dibutuhkan oleh pelanggan, yaitu beras. Bila beras murah, pelanggan akan datang. Untuk itu perlu diketahui juga lingkungan lokasi pembeli. Kalau minimarket kelas pembelinya sudah agak menengah. Kalau toko kecil biasanya pada kelas bawah, sehingga akan laku jika menjual sembako eceran, misalnya beras eceran, dalam literan atau kiloan, minyak kiloan atau literan dsb. Hal ini merupakan keunggulan. Meskipun barang murah, tetapi yang dijual adalah beras 5 kiloan paling kecil, sedangkan pelanggan minta hanya setengah atau satu liter, tentu tidak terbeli. Sama juga minyak goreng yang dijual adalah 1 liter, sedangkan pembeli ingin ¼ liter. Hal yang lain juga berlaku untuk penjualan rokok ketengan, telor eceran dan sebagainya. Ada baiknya kadang kala beli di toko yang lain untuk mengetahui situasinya, kalau dilakukan sendiri sungkan, perlu minta tolong saudara atau teman mengamati toko pesaing.
Dengan demikian posisi toko harus jelas untuk kelas mana. Ketidaktepatan menentukan posisi di mata pelanggan membuat toko tidak jelas dipandang oleh pelanggan. Pengembangan produk toko bisa masuk ke bisnis makanan, minuman, jus, dsb.
Penjualan air mineral dan gas juga merupakan alternatif. Pemilihan alternatif ini disesuaikan dengan kemampuan perusahaan, karena ada yang memerlukan modal besar, maupun yang kecil. Membuat minimarket harus jelas pembelinya dahulu. Bila tidak tepat analisisnya bahkan membuat masalah baru lagi. Lebih baik toko yang ada dikembangkan dengan pengembangan produknya. Penjualan toko yang tetap atau stabil, bisa dilihat dari dua aspek, yaitu bearti sudah mapan, yang dipikirkan adalah pengembangannya.
Sementara untuk bisnis konter, persaingan sangat tinggi, dan keuntungan yang diperoleh cenderung tipis. Memang sekarang baru trend, tetapi pesaing juga bergerak sangat cepat. Bila tidak membuat inovasi pada konter, penjualan akan cepat menurun dengan adanya persaingan. Karena penjualan konter sedang meningkat dan bila penghasilan konter lebih besar dari toko, berarti toko ini bisa diperkirakan sangat kecil atau lebih kecil dari konter. Untuk itu memang perlu diamati lagi dan diperbandingkan dengan pesaing pada toko yang lain

Minggu

MENCARI IDE DAN PELUANG BISNIS

Persoalan mencari ide usaha memang salah satu masalah utama bagi calon wirausahawan. Anda mungkin pernah atau bahkan sering bertemu dengan orang yang mengungkapkan keinginannya untuk mempunyai usaha sendiri namun tak kunjung juga menemukan ide usaha yang pas. Padahal kalau kita mau, ide usaha bisa diperoleh dari mana saja mulai dari apa yang kita lihat di lingkungan sekitar, apa yang kita dengar sehari-hari, melihat potensi diri sendiri, mengamati lingkungan sampai dengan meniru usaha orang lain yang sudah sukses.
Intinya, ide bisnis bisa dipilih dari upaya pemenuhan apa yang dibutuhkan manusia tersebut, mulai dari kebutuhan yang menyangkut ujung kaki sampai dengan ujung rambut, dari kebutuhan primer, sekunder dan kebutuhan akan barang mewah. Tapi tentu saja perlu diingat bahwa berbisnis sesuai dengan karakter dan hobi kita akan lebih menyenangkan, dibandingkan dengan bisnis yang tidak kita sukai. Kita akan lihat dari mana saja ide usaha itu bisa kita dapatkan.
Kalau Anda perhatikan di lingkungan sekitar Anda, begitu banyak dan beragam jenis usaha yang ada. Anda tentu berpikir bagaimana awalnya pelaku usaha tersebut mendapatkan ide usahanya sehingga bisa berjalan dan berkembang seperti sekarang ini. Tapi kalau Anda cermati, ternyata usaha-usaha tersebut kebanyakan meniru usaha-usaha lain yang telah ada, misalnya usaha internet café, bengkel, rumah makan, biro jasa, minimarket, laundry, even organiser, dan lain-lain. Dalam mewujudkan ide usaha menjadi bisnis, tidak ada suatu keharusan bahwa ide tersebut benar-benar orisinil, bisa saja ide ini hanya merupakan pengembangan dari bisnis yang sudah eksis. Ini membutuhkan kreativitas dari seorang calon wirausahawan.
Kebanyakan para calon pengusaha terjebak dengan pemikiran bahwa ide bisnis haruslah original, lain daripada yang lain. Kalau bisa mendapatkan ide bisnis yang original, itu sangat bagus. Itu berarti Anda mampu menciptakan pasar, Misalnya usaha pembuatan dokumeter proses kelahiran bayi, BabyBorn, merupakan usaha yang pasarnya diciptakan oleh pengusahanya. Sedangkan usaha-usaha yang umumnya sudah ada adalah usaha yang diciptakan karena adanya kebutuhan pasar, yang kemudian pengusaha tersebut berusaha untuk memenuhinya. Misalnya usaha jasa kuras septic tank ada karena banyak orang yang membutuhkan jasanya. Usaha salon ada karena banyak orang yang perlu merawat tubuhnya, Toko bahan bangunan dibuat karena banyak penduduk sekitar yang memerlukan bahan bangunan untuk membangun dan merenovasi rumah, biro jasa pengurusan surat-surat ada karena untuk memenuhi kebutuhan orang-orang yang malas berurusan dengan birokrasi yang ribet.
Tegasnya, sukses tidaknya suatu bisnis tidak terletak apakah yang bersangkutan sebagai penemu ide bisnis atau bukan, tetapi lebih merupakan kemampuan untuk mengoptimalkan kelebihan spesifik dari ide bisnisnya. Ide menjual kue donat bukanlah hal yang baru. Namun, ketika Anda bisa memberikan nilai lebih dibandingkan dengan donat-donat lain di pasaran, baik kreasi bentuk, isi, ukuran, dan tentu saja rasa, maka Anda bisa menawarkan hal yang berbeda dan memberikan nilai tambah.
Inspirasi Bisnis
Semua yang bisa kita lihat bisa dijadikan inspirasi untuk membangun usaha dan membuat kita lebih kaya. Contohnya, kalau kita melihat tubuh seseorang, kita bisa gali ide usaha dari apa yang kita lihat mulai rambut sampai kaki. Misalnya kalau melihat rambut orang, kita bisa membuat usaha salon, jepit rambut, ramuaan penyubur rambut, dan lainnya. Kalau Anda melihat kaki seseorang, Anda bisa mendapatkan ide untuk membuka usaha jasa pijat refleksologi, membuat usaha sandal dan sepatu, membuat keset, dan lainnya. Juga berlaku terhadap apa yang anda lihat dan perhatikan disekeliling Anda.
Orang yang mampu menjadikan segala sesuatu yang ia lihat sebagai inspirasi bisnis mungkin tergolong kelompok yang mampu menciptakan pasar. Ini sebuah kemampuan istimewa dan harus dimiliki oleh seorang pengusaha.
Saya seringkali mendengar pendapat pakar entrepreneur mengatakan bahwa hanya 10% bisnis yang sukses hanya dengan sekali melangkah dan rata-rata, sebelum menemukan bisnis yang sukses, pengusaha mengalami kegagalan lebih dari lima kali. Artinya sebagian besar pengusaha menemukan kemapanannya setelah mencoba mewujudkan gagasan bisnis untuk yang kesekian kali. Itu berarti, semakin cepat orang mendapatkan gagasan dan merealisasikan ide, semakin dekat pula dia pada kesuksesan. Bagi saya, pendapat tersebut ada benarnya, namun di sisi lain sedikit tidaknya itu bisa mematahkan semangat calon pebisnis pemula, maka dari itulah informasi ini sengaja disusun agar Anda sebagai calon pengusaha mendapatkan bekal pengetahuan yang cukup dan bisa mempersiapkan diri sebelum terjun ke dunia usaha untuk mencapai kesuksesan serta dapat menghadapi situasi terburuk yang mungkin terjadi, sehingga Anda tahu apa yang harus dilakukan agar tidak mengalami kegagalan berusaha.
Mengembangkan Ide Bisnis
Ide bisnis bertebaran di mana-mana. Banyaknya jenis usaha yang ada di sekitar Anda menunjukkan bahwa ide bisnis bisa didapat dari pemenuhan kebutuhan orang-orang yang tinggal di sekitarnya. Anda bisa membayangkan kebutuhan hidup Anda selama ini, kemudian dapat Anda pikirkan siapakah yang sudah memanfaatkan kebutuhan Anda tersebut untuk mendapatkan rejeki dari Anda. Saya yakin umumnya kebutuhan Anda hampir sama dengan kebutuhan orang-orang lainnya termasuk saya.
Gagasan bisnis yang berpotensi tak harus kita cari dengan benar-benar memeras otak atau bersemedi untuk menunggu wahyu dari langit. Berikut beberapa ladang penyedia gagasan bisnis yang dapat Anda gali:
1). Mengenal Diri Sendiri
Silakan Anda kenali diri sendiri. Temukan hobi, kegemaran, kemampuan, jaringan personal, serta potensi diri sendiri yang bisa Anda sulap menjadi sebuah kegiatan bisnis yang menguntungkan. Banyak contoh pengusaha yang sukses dengan ‘mengomersilkan’ dirinya sendiri.
a.Ide dari Pekerjaan dan Keterampilan.
Keterampilan yang sudah kita miliki dan kembangkan dan pekerjaan telah sekian lama kita tekuni dan jalankan merupakan sumber yang kaya akan ide bisnis yang tepat untuk kita. Alasannya? Dari sinilah insting bisnis kita dibentuk dan dipupuk. Banyak orang memilih ide usaha dari pekerjaan yang pernah mereka tekuni dan keterampilan yang sudah mereka miliki. Misalnya seseorang karyawan yang pernah bekerja di sebuah travel agent dan menjadi operasional manager di perusahaan tersebut sebelum akhirnya terjun untuk membangun travel agentnya sendiri. Dari pekerjaannya ini, ia mengembangkan keterampilan teknis dan manajemen, serta mengembangkan jaringan perkenalan dengan orang-orang yang tepat yang harus dihubungi di bisnis yang ia tekuni tersebut. Contoh lain, ada orang yang juga pernah bekerja di pabrik roti, sehingga ia mempunyai keahlian membuat segala jenis roti dan mempelajari manejemen bisnis tersebut, sehingga memutuskan untuk membuat pabrik roti sendiri. Coba Anda renungkan kira-kira bisnis apa yang sesuai dengan pekerjaan dan keterampilan Anda saat ini dan sekiranya cocok untuk Anda jalankan di lingkungan Anda.
b.Ide dari Minat dan Hobi.
Ide usaha juga bisa dimulai dari sesuatu yang Anda akrabi baik minat atau hobi yang Anda miliki. Kedua hal ini merupakan sumber yang memiliki kekuatan yang ampuh dalam membangun keyakinan serta motivasi bagi kita untuk memulai usaha. Umumnya orang tidak merasa terbeban untuk melakukan yang ia senangi dan akrabi. Ini merupakan modal kuat bagi seorang pengusaha yang menekuni dunia yang memang ia cintai. Kalau dari kecil suka bikin kue atau memasak, bisa bikin usaha seputar makanan, kalau suka musik dan pandai memainkannya, bisa buka sekolah musik dan studio musik. Beberapa olahragawan nasional seperti Susi Susanti, Elfira Nasution, dan Ade Rai, mengembangkan usaha mereka di jalur yang sesuai dengan minat, hobi, dan pengalaman kerja: menjadi pelatih, membuka sekolah olah raga, toko peralatan olah raga dan pusat kebugaran. Bahkan kalau Anda hobi cuap-cuap dan suka bergaul kenapa tidak membuat even organiser, kini banyak perusahaan atau individu yang memanfaatkan jasanya.
c.Ide dari Pengalaman.
Pengalaman dan pengetahuan yang ditimba sebelumnya memberikan landasan yang kuat untuk melahirkan ide dan mewujudkannya ke dalam bisnis, serta cara-cara penanganannya mulai dari memproduksi barang sampai memasarkannya ke konsumen. Tidak hanya pengalaman diri sendiri, tapi juga pengalaman orang lain selain merupakan guru yang baik, juga merupakan sumber ide bisnis yang kaya. Jika pengalaman tersebut adalah pengalaman buruk, maka tentunya kita tidak ingin pengalaman tersebut terulang lagi. Kita akan berusaha mencari jalan “baru” untuk menghindari kesulitan dan masalah yang pernah kita alami. Jalan baru inilah yang memacu munculnya ide-ide bisnis yang brilian. Contoh, taruh kata Anda seorang karyawan kontraktor sipil yang sering berhubungan dengan pemasok material dan para mandor pekerja. Mengapa tak menggunakan pengalaman dan jaringan Anda untuk membikin usaha kontraktor kecil-kecilan yang melayani pembangunan rumah di sekitar Anda?
2). Amati Kebutuhan Lingkungan Terdekat
Selain pengalaman, pengamatan ternyata juga adalah sumber ide bisnis yang tak habis-habisnya. Dari pengamatan akan segala sesuatu yang terjadi di sekitar kita, kita bisa menemukan kebutuhan-kebutuhan pasar yang belum terpenuhi, ataupun sudah terpenuhi tapi belum memuaskan konsumen, yang bisa kita jadikan peluang bisnis. Bahkan, pengamatan ini merupakan keterampilan yang wajib dimiliki seorang pengusaha. Pada prinsipnya, identifikasi kebutuhan yang belum terpenuhi merupakan konsep dari upaya membangun usaha. Dari pengamatan ini, banyak ide bisnis dan peluang bisnis yang bisa terus digali untuk dikembangkan. Misalnya dari hasil pengamatan terhadap masyarakat, kita bisa lihat dan mengidentifikasi kesibukan orang tua banyak yang tidak memungkinkan mereka untuk mengantar-jemput anak-anak mereka sekolah sehingga kebutuhan pelayanan antar jemput anak sekolah merupakan suatu peluang bisnis yang dapat dijalankan.
Para pengusaha sukses banyak yang mendapatkan ide usaha dari mengetahui kebutuhan dirinya sendiri serta lingkungan terdekatnya. Pengusaha kuras WC dan saluran air memulai usahanya karena ia melihat peluang itu dari kebutuhannya dahulu yang tidak terpenuhi. Pengusaha salon kecantikan banyak memulai usahanya karena kebutuhan dirinya sendiri dalam merawat tubuhnya, sehingga menjadikannya sebagai ide bisnis. Pengusaha warung nasi, juga mengawali usahanya karena kebutuhannya dan orang-orang di sekitar perumahannya akan makanan siap saji kurang terpenuhi.
Kalau Anda tinggal dalam lingkup perumahan, tentu Anda amati bahwa kebutuhan hiburan bagi anak-anak begitu tinggi. Tapi sejauh ini belum ada tempat yang menyediakan fasilitas semacam itu, adanya hanya di supermarket dan mall yang jauh dari lingkungan perumahan. Kalau anda mempunyai modal untuk membuat tempat hiburan anak atau taman bermain dengan fasilitas lengkap, pastilah banyak anak-anak dan orangtuanya yang datang untuk bersenang-senang. Merekapun tak perlu pergi jauh untuk menyenangkan anak-anaknya.
3). Gagasan dari Media Massa
Kalau Anda tengah mencari ide usaha, media massa bisa menjadi sumber gagasan bisnis. Dengan menyimak prakiraan cuaca, misalnya, mungkin terbetik ide di kepala kita untuk memproduksi mantel sepeda motor yang murah. Saat mengetahui jalanan Jakarta semakin macet gara-gara penambahan jalur busway, bisa jadi muncul ide bagi anda untuk menjual sarapan siap saji yang bisa disantap para pengemudi mobil sembari bermacet-ria.
Contoh lain, berita kenaikan harga BBM dan rencana peningkatan tarif listrik sudah dimanfaatkan pengusaha yang jeli untuk memasarkan produk-produk penghemat energi. Maraknya pencurian sepeda motor juga sudah dimanfaatkan para pakar elektronik untuk memproduksi dan menjual sistem pengaman sepeda motor tambahan.
Hematnya, bisnis ini berhubungan dengan ‘ketepatan timing’ dalam memulai suatu usaha yang merupakan suatu komponen penting sukses tidaknya bisnis. Tentu saja kita tidak akan menjual perahu karet atau jas hujan di musim kemarau atau sebaliknya menjual es teler pada musim dingin atau musim hujan.
Tapi, ada satu hal yang mesti Anda ingat kalau hendak mencari ide dari media massa. Jangan gampang terpengaruh dengan artikel-artikel yang bercerita tentang peluang bisnis sendiri. Soalnya, cerita tentang peluang seperti itu pasti juga dibaca banyak orang yang sebagian juga tertarik untuk menirunya. Akhirnya, peluang ini tak menjadi peluang lagi karena terlalu banyak pasokannya.
4). Ide dari Berbagai Iklan Koran dan Yellow Pages
Halaman iklan di koran, majalah, tabloid, internet dan buku telepon bukan hanya menyediakan nomor telepon dan alamat. Kalau Anda cermati, di sana tersaji informasi bermacam-macam bentuk bisnis. Nah, siapa tahu beberapa di antaranya sesuai dengan kompetensi Anda? Atau, siapa tahu sebagian di antaranya sesuai dengan segmentasi pasar yang Anda kenal? Kalau memang begitu, Anda tinggal perlu menimbang apakah bisnis serupa bisa Anda usung dan wujudkan di lingkungan Anda sendiri.
Kalau Anda berniat menjadikan iklan di media dan buku telepon sebagai sumber inspirasi, pilih media atau buku telepon dari daerah lain yang sekelas atau setara dengan daerah tempat tinggal Anda. Cermati juga karakter calon pelanggannya. Kalau memang serupa, Anda tinggal perlu keberanian untuk menirunya.
5). Ide Bisnis Dari Kegagalan dan Kesuksesan Orang Lain.
Orang bijak mengatakan “Belajarlah dari kegagalan orang lain”. Tidak ada salahnya belajar bisnis dari yang gagal. Mengapa? Karena ada kemungkinan kita bisa memulainya dengan kesuksesan. Kegagalan bisnis yang dilakukan orang lain, merupakan pelajaran penting bagi Anda untuk mengoreksi jalan yang salah menjadi benar dan lebih baik lagi. Namun demikian, belajar dari yang sukses pun sangat dianjurkan, karena dengan demikian Anda telah belajar memulai sistem yang sudah terbukti berhasil.
6). Ide Dari Buku, Majalah dan Tabloid. Sumber pengetahuan dan pengalaman bisnis bukan hanya kita dapat dari bekerja pada perusahaan tertentu saja, karena saat ini banyak sekali sumber pengetahuan dan pengalaman bisnis yang bisa kita dapatkan. Kalau Anda rajin ke toko buku, atau lapak majalah, cukup banyak buku-buku, majalah-majalah dan tabloid terbitan yang membahas mengenai kewirausahaan dan serta menyajikan informasi-informasi mengenai peluang usaha, pengalaman wirausahawan, berbagai tips dan kiat usaha yang dapat menyegarkan pikiran Anda, sehingga Anda dengan leluasa bisa memilih, bisnis apa yang sesuai dengan karakter dan kemampuan Anda. Beberapa rekomendasi untuk Anda, dan patut dibaca adalah: Tabloid Peluang Usaha, Majalah Pengusaha, Majalah Duit, Tabloid Kontan. Dari tabloit dan majalah tersebut Anda akan memperoleh banyak ide bisnis. Misalnya : melayani kebutuhan, menjual eceran, menjual penemuan, duplikasi usaha, menjual ketrampilan, usaha pelatihan, usaha keagenan, barang koleksi, buka kantor konsultan, bisnis MLM, membeli waralaba, membeli usaha prospektif, membeli usaha yang bangkrut, membuka kios, atau pun usaha bersama.
Seorang wirausahawan pemula juga dianjurkan untuk selalu kreatif dan jeli dengan bisnis yang dijalankannya, artinya selalu melakukan diversifikasi produk atau pengembangan produk agar memiliki varian lebih banyak dengan cara melakukan inovasi terhadap produk-produk dan pelayanan yang sudah ada dan melakukan kreasi untuk produk-produk baru yang belum pernah ada sebelumnya, sehingga konsumen tidak jenuh. Salah satu cara bisa ditempuh dengan mengunjungi usaha-usaha sejenis di daerah lain, sehingga Anda bisa menilai kelebihan apa yang sekiranya bisa Anda lakukan terhadap produk Anda.Juga bisa dengan melakukan survey melalui kartu opini atau berinteraksi dengan konsumen, sehingga Anda mengetahui sejauh mana produk atau jasa Anda bisa memuaskan konsumen, apa yang sebenarnya dinginkan konsumen, dan apa saja kekurangan produk dan pelayanan Anda yang perlu segera dibenahi dan ditingkatkan. Satu lagi yang perlu diingat agar bisnis yang akan kita jalankan harus sesuai dengan peraturan ada. Sebaiknya jangan sampai melanggar ketentuan yang berlaku. Jangan karena ingin mendapatkan keuntungan yang besar lalu kita bisnis barang bajakan, barang palsu atau menjual barang terlarang lainnya. Dan jangan pernah melakukan penipuan dan kecurangan. Boro-boro dapat untung, malahan kita bisa masuk bui.