Pernikahan di dunia ini tidak ada yang terbebas dari masalah . Masalah bisa datang dari dalam maupun dari luar pernikahan itu sendiri. Kualitas masalah tidak selalu sama dalam setiap pernikahan, ada yang ringan ada pula yang sulit diselesaikan. Bahkan ada juga pernikahan yang kandas ditengah perjalanan, mengalami perpecahan dengan jalan bercerai. Tentu saja hal ini disebabkan oleh sifat ke-ego-an manusia , keterbatasan sebagai manusia yang punya kekurangan dan kelebihan, serta pemerosotan kualitas hidup manusia dari waktu ke waktu apalagi kehidupan yang boleh dibilang menjelang akhir jaman ini.
Masalah konflik
Konflik dalam kehidupan pernikahan tidak bisa terhindari , semua keluarga yang telah menikah pasti pernah mengalami dan menghadapi konflik bahkan dapat dikatakan merupakan bagian dalam kehidupan pernikahan. Hanya bagaimana cara menghadapi dan memecahkan konflik dalam rumah tangga yang merupakan suatu seni dalam kehidupan pernikahan itu.
Hidup manusia yang terus menerus berada dalam perubahan sesuai dengan waktu dan perkembangan jaman . Maka sangatlah wajar apabila dalam berinteraksi dengan sesama kita sering mengalami benturan atau konflik , karena adanya perbedaan terjadi. Konflik dapat diartikan sebagai keadaan dimana dua atau lebih orang tinggal berdekatan dan saling bersinggungan. Apalagi bila sejak menikah tidak seatap dengan pasangan hidup kita, tentu saja akan mudah terjadi konflik, bahkan pertengkaran.
Sebenarnya konflik itu bukanlah dosa, tetapi dapat melahirkan dosa apabila tidak diatasi secara kreatif. Terus apa yang harus dilakukan biar konflik ini tidak membawa kedalam dosa, bagaimana caranya?
Pertama, memahami penyebab konflik itu sendiri
- Adanya perbedaan pria dan wanita dalam setiap sel tubuh. Perbedaan dalam kombinasi kromosom adalah penyebab utama dari munculnya perubahan sifat kelaki-lakian dengan kewanitaan.
- Dalam beberapa hal wanita memiliki fungsi penting yang tidak dimiliki laki-laki, misalnya; masa haid, kehamilan dan menyusui. Hal ini mempengaruhi perilaku dan perasaanya, tentu laki-laki tidak.
- Kebanyakan wanita lebih banyak berbicara menggunakan perasaan, namun laki-laki lebih banyak berbicara menggunakan rasionya.
- Perbedaan latar belakang keluarga dan lingkungan sosial yang membentuk kepribadian masing-masing sebelum keduanya mengikat diri dalam suatu pernikahan.
- Perbedaan temparemen yang dimilikinya yaitu sifat bawaannya.
- Perbedaan dari segi kedewasaan rohani, kalu sesama seiman, tetapi bisa jadi berbeda dalam hal keyakinan iman.
Dalam keluarga , konflik bisa juga terjadi karena ada musuh-musuh yang bisa saja muncul dalam keluarga itu sendiri maupun yang berasal dari luar keluarga tersebut. Musuh itu antara lain:
- Adanya campur tangan pihak ketiga, biasanya mertua atau saudara ipar.
- Tidak mempunyai keturunan yang menyebabkan keluarga itu merasa hampa dan tidak bahagia.
- Kemiskinan atau hutang piutang karena kesalahan dalam pengolahan keuangan.
- Antara harapan dan keyakinan yang tidak sesuai (ingin punya mobil, rumah , perabotan lain yang mewah justru penghasilan tidak sesuai dengan harapannya).
- Pornografi, perjundian, pemadat dan peminum serta pemakai obat-obatan terlarang.
- Perselingkuhan.
- Hobby pribadi yang mengabaikan tanggung jawab keluarga.
- Penggunaan kuasa kekgelapan.
Kedua , bagaimana menghadapinya.
Apabila suami istri telah menemukan apa yang menjadikan konflik serta mengenali musuh pernikahan yang membelenggunya, Maka suami istri harus mulai membicarakan secara terbuka, mulailah belajar untuk menerima dan menhargai adanya perbedaan yang hakiki dalam diri wanita dan laki-laki. Suami istri setidaknya memberikan waktu khusus untuk saling dapat mengenal dan memahami secara lebih dalam .
Maka kalau ada konflik sebaiknya secepatnya dibicarakan dan selesaikan sebelum konflik itu berlarut menjadi masalah yang lebih serius . Ingat terjadinya konflik dalam pernikahan merupakan suatu proses pengenalan dan pemahaman diri yang baik terhadap masing-masing individu tetapi sekaligus menjadi tempat untuk memproses kedewasaan dalam berpikir, berbicara dan berperilaku terhadap pasangan.
Ketiga , berdoa dan berserah penuh kepada Tuhan.
Dalam menghadapi konflik dalam do’a setidaknya akan membawa lebih baik untuk mengatasi masalah, Bukan hal tidak mungkin doa orang yang benar akan besar kuasanya untuk dapat terkabul.
Konklusi
Hal yang perlu dilakukan untuk menolong pernikahan yang bermasalah dalam menghadapi konflik atau menghadapi musuh-musuh pernikahan maupun perbedaan yang ada . Langkah apa yang harus dilakukan?
- Mendampinginya, dengan cara menjadi penasehat atau mentor dalam penyelesaian masalahnya serta meninjaaunya berdasarkan prinsip agama.
- Membangun kehidupan spiritual yang sehat serta komunikasi keluarga yang harmonis dan terbuka . Ajak keluarga tersebut untuk berdoabersama-sama. Supaya rumah tangga itu dapat bertahan dalam menghadapi goncangan serta kuat melewati masa-masa yang sulit.
- Mulailah menolong rumah tangga tersebut tentang bagaimana berperilaku proaktif dalam menghadapi masalah berdasarkan prinsip-prinsip keimanan.
- Mengajak melakukan kegiatan –kegiatan yang positip dimana pada akhirnya dapat menolong rumah tangga mereka dalam memecahkan masalahnya.
Yang terpenting adalah ada niat dan mengubah sikap hidup, maka masalah seberat apapun , serumit apapun atau perbedaan prinsip yang sangat jauhpunniscaya dapat diatasi dengan baik. Kebanyakan kegagalan ini tidak adanya keinginan untuk saling mengampuni dan merendahkan diri