Selasa

KASIH

Berbicara soal kasih, pasti semua orang setuju, Kasih dalam pemahaman sederhana adalah niatan dari suatu subyek hidup untuk memberi perhatian secara khusus kepada subyek hidup lainnya. Karena keagungan kasih itu, meski salah satu diantaranya semestinya berposisi sebagai obyek, namun keduanya bisa berperilaku sebagai subyek.. Kaidah bahasa pun bisa sejenak diabaikan.

Yang disebut subyek hidup biasanya adalah human being atau biasa disebutnya MANUSIA. Namun sering didengar orang mengatakan sepasang merpati sedang memadu kasih. Jadi kasih itu sebenarnya memang bukan monopoli manusia.

Dalam bahasa Indonesia, orang sering memperdebatkan antara kasih, cinta dan sayang. Mereka yang sedang dimabuk asmara menuntut, tak hanya cukup dengan kasih dan sayang. Cinta serasa punya posisi yang lebih tinggi Pelaku lain lebih mengunggulkan kasih dan sayang misal untuk memberi rumusan dalam keluarga, atau perilaku yang dijalankan dalam masyarakat ketika seorang atau komunitas hendak mengekpresikan isi hatinya kepada komunitas lain. Sementara para ilmuwan pun tampil dengan bahasa lain, bagi mereka, cinta kasih dan sayang punya sebuah gradasi, sebuah pengetahuan yang membanggakan, yang diimpor dari seberang sana.

Namun yang pasti bila kasih sedang bekerja, akan ada yang mengasihi, dan ada yang dikasihi, baik mengadakan timbal balik atau tidak.

Kali ini yang dibicarakan adalah kasih yang bekerja dalam human being. Menjiplak pengetahuan para ahli, didalam eros yang katanya bergradasi paling rendah, manakala terjadi keseimbangan, maka keduanya adalah subyek, sebab saat “I LOVE YOU” berjalan sesuai harapan, artinya mendapatkan balasan, maka akan terjadi “YOU LOVE I” yang juga diucapkan I LOVE YOU. Salah satu diantaranya baru betul-betul hanya menjadi obyek saja, bila terjadi yang namanya ketidak seimbangan. I love you tidak mendapatkan balasan. Kasih berjalan satu arah. Tidak ada “subyek to subyek”. Ada obyek namun justru subyek yang menderita.

Sementara perilaku kasih philia dalam konteks kebangsaan Indonesia saat ini, perlu mendapatkan perenungan dengan berbagai macam pertanyaan yang menggugatnya.

Dalam praktek, bila ada pembelaan demi sebuah kasih, masyarakat saat ini sulit menerimanya kalau itu adalah benar-benar aplikasi dari sebuah kasih.

Seseorang atau kelompok masyarakat yang mempraktekkan kasih dengan memberikan bantuan kepada orang lain atau kelompok masyarakat, justru dipertanyakan mengapa kok mau membantu dan sebagainya. Seorang yang tulus membela rekannya, toh dipertanyakan juga apa motivasi terselubungnya.

Karena pada kenyataannya, banyak orang memang lebih suka menjadi obyek. Dengan berbuat sesuatu, harapannya bukan menjadi subyek pelaku, namun justru berharap menjadi obyek perhatian banyak orang, sehingga kalau sampai terjadi ketulusan kasih, orang tak lagi mempercayainya.

Kapan dan bagaimana kasih bisa betul diterima sebagai kasih, dan pelakunya murni sebagai subyek, adalah sebuah pertanyaan yang perlu mendapatkan jawaban.

0 komentar: