Minggu

PANGGILAN SEORANG IBU

Panggilan seorang ibu masih menjadi kodrat dari seorang yang dilahirkan sebagai wanita. Panggilan ini bukan suatu beban. Panggilan ini adalah panggilan cinta kasih dari ciptaan yang bernama manusia. Maka seorang wanita jika memahami dengan kecintaan bahwa dirinya kelak menjadi seorang ibu adalah panggilan yang mulia. Ia bukan hanya tampil sebagai wanita yang kinyis-kinyis di depan publik tetapi juga sedia berkeringat dan berbau asap di dapur demi menyediakan makanan hasil dari sentuhan hati dan kebanggaan keluarganya.

Memang tak ada satupun wanita yang sempurna menjadi wanita apalagi menjadi seorang ibu, namun begitu panggilan ibu bukanlah lantas diabaikan. Ibu adalah sosok wanita dan sekaligus tugas yang mulia.

Pertama, panggilan ibu adalah panggilan yang mempengaruhi anak-anak dengan iman, cinta kasih, dan sentuhan ilahi. Anak  mengerti sejauh dari apa yang dilihat, didengar dan dialami di tengah-tengah keluarganya. Ada seorang teman yang menjadi seorang istri misionaris memberikan kesaksiannya , seorang ibu harus mengembangkan misi ilahi dalam kehidupan anak-anaknya. Bahwa Tuhan memiliki tujuan disetiap keluarga yang dipercayakan padanya. Saat ia sadar bahwa Tuhan tidak menghendaki untuk “selalu tampil” dipelayanan, ia memfokuskan dirinya untuk melayani anak-anaknya. Dari pengalaman ini ia menyaksikan kepada banyak keluarga. Dan ia banyak mengubah keluarga-keluarga yang nyaris hancur oleh kekaburan pangilan dari keluarga yang percaya. Apa rencana Tuhan buat anak-anak dan keluarga tak mungkin ditemukan jika ibu sibuk mengurus kesibukannya sendiri.

Kedua, panggilan ibu adalah mengajar anak-anak. Karena seorang anak adalah titipan ilahi dan telah dipercayakan  kita, yang mengajar itu bukanlah seorang baby sitter. Apalgi mengajarkan tentang kebenaran yang menjadi dasar kepribadian seorang anak. Pengajaran hari ini yang diletakkan seorang ibu akan menjadi mata rantai terhadap generasi selanjutnya. Mata rantai dari seorang anak terbentuk dari pengajaran seorang ibu yang mencintai panggilannya. Sebab panggilan seorang ibu adalah panggilan dari Tuhan itu sendiri. Seperti pepatah mengatakan sorga ada ditelapak kaki ibu.

Ketiga, ibu yang selalu hangat dengan pelukan. Saya tertawa masam dengan pernyataan seorang diva di televisi, yang menyatakan demikian, ”kami lebih siap memeluk anak-anak mudah dari siapapun”. Diva itu benar, anak-anak lebih mudah dan betah dipeluk oleh acara televisi yang tidak jelas arah dan nilai pendidikannya dari pada dipeluk seorang ibu. Ibu mereka juga disibukkan dengan acara sinetron daripada memeluk anak-anaknya; yang kesepian, bersalah dan gagal. Pelukan ibu terasa tawar dan hambar karena tak ada kehangatan kasih, pengampunan dan penerimaan.
Gary Smally, menuliskan hasil penelitiannya selama bertahun-tahun mengenai pengaruh pelukan seorang ibu khususnya kepada anak-anaknya. Kemudian ia menyimpulkan demikian, seorang yang memeluk dan yang dipeluk keduanya menerima keuntungan fisiologis.
So?...  Kembalilah kepada pangilan anda sebagai seorang wanita dan seorang ibu. Sebab Anda seorang wanita sekaligus seorang ibu.

Abaikan panggilan mall untuk menguras dompet Anda, singkirkan jadwal arisan, coret jadwal fitness Anda dan buang jauh soal mandi lulur, hentikan pembelian suplemen pelangsing tubuh. Kemudian melangkahlah, bukalah hati dan tangan Anda peluklah anak-anak Anda dan tentunya jangan lupa suami yang juga menunggu pelukan.
Selamat menjadi Ibu yang sejatinya ibu.