Jumat

Tisu Bekas Di Jendela

Seperti biasanya, pagi itu sebuah perusahaan diawali dengan doa bersama. Sebelum dimulai, tiba-tiba seorang karyawan berkata, " Waduh, ada tisu bekas di jendela nih. Kalau saja saya tidak melihat dan membereskan, pasti saya nanti yang kena marah. Orang-orang disini sangat susah dibilangi, padahal sudah berkali-kali disampaikan kepada mereka supaya peduli terhadap kebersihan lingkungan dan juga hidup bertanggung jawab." "Iya ya, kok susah banget dibilangi ya," Kata teman yang kebetulan duduk di sebelahnya. Akhirnya karyawan tersebut mengambil tisu bekas itu dan membuang ke dalam tempat sampah. Memang dia termasuk salah seorang yang diberi tanggung jawab dalam kebersihan, disamping karyawan lainnya. Tetapi, bukan berarti karyawan lain bebas membuang sampah sembarangan.

Masalah tisu bekas sepertinya bukanlah masalah besar, artinya anak kecilpun bisa diminta untuk membereskannya. Namun, sebenarnya itu menyangkut masalah kepribadian seseorang. Ada beberapa hal yang bisa diperkirakan tentang pribadi seseorang yang membuang tisu bekas itu dijendela. bisa jadi dia adalah seorang yang sembrono dan ceroboh. Dia tidak berpikir bahwa bisa saja ada tamu yang akan melihat tisu bekas tersebut dan ini akan membuat malu banyak orang di perusahaan tersebut. Mungkin saja dia adalah seorang yang suka meremehkan hal-hal kecil. Dia berpikir bahwa itu hanya sebuah tisu bekas, masalah sepele, dan tidak akan berdampak besar. Mungkin juga dia seorang yang tidak bertanggung jawab. Dia berpikir bahwa orang lain bisa membereskan tisu bekas itu, terutama mereka yang bertugas kebersihan. dia sengaja membuang tisu bekas tersebut karena tidak mau itu akan mengotori tangannya. Bagaimanapun kepribadian orang tersebut, ini adalah sesuatu yang tidak benar. Tentang orang yang tidak setia pada perkara kecil apa mungkin dia akan dipercayakan terhadap perkara yang besar. Karena dalam hidup manusia akan diberikan perkara yang lebih besar kalau dia setia pada perkara-perkara yang kecil. dan menariknya akan mendapat upah dari kesetiaan itu. Seorang yang berhasil yang mengawali karir dari hal yang paling rendah hingga sampai kepuncak biasanya akan tetap setia dengan perkara yang kecil dan mungkin bisa dianggap orang lain sepele.

Banyak orang betapa mudahnya mengesampingkan suatu pekerjaan atau kegiatan karena menurutnya hal itu terlalu remeh. Tidak timbul rasa peduli dan tanggung jawab karena tetap menganggap hal itu perkara yang kecil.
Padahal jika demikian sebenarnya orang itu sedang menuju pada sebuah kegagalan besar.

Mampukah diriku untuk setia pada perkara kecil yang dipercayakan? Sebelum mendapat kepercayaan terhadap perkara yang lebih besar?

Siap tidaknya seseorang menerima perkara besar bisa dilihat dari setia tidaknya dia terhadap perkara becil.

0 komentar: