Minggu

Deal With Your Trauma

Bermain balon bagi anak usia lima tahun mungkin saja menjadi kesenangan tersendiri. Itu kaya yang dilakukan anak saya Elsa Azarya. Gimana nggak, udak capai-capai  meniup-niup biar balon yang dipegangnya membelendung, eh malah kemudian dipukul-pukul, diduduki, diinjak hingga meletus. Bahkan kalau belum berhasil juga, dia sibuk mencari benda yang berujung lancip hingga balon itu mengeluarkan bunyi beruntun DUERRRRR... DUUUERRR..!!!

Sensasi efek kejut itu disambut cekikikan dan gelak tawa kemaki menjadi tanda keberhasilan meletuskan satu persatu balon yang telah ditiup. Mereka kegirangan. Reaksi serupa pernah kulihat ketika bunyi petasan memberondong dimalam-malam kehadiran hari raya lebaran,saat anak tetangga Daffa dan Hanun menyulut petasan didepan rumahnya, anak-anak sebaya Elsa berebut keluar ingin menyaksikannya.

Tapi pemandangan bertolak belakang pernah kujumpai. Bunyi bikinan para "hero" itu justru menjadi teriakan histeris NaZya. Kedua tangannya menutup kedua alat pendengarannya. Air mata menetes. Dalam dekapan ibunya, dia terus meronta sambil meracau nggak jelas. hingga tiga hari dia tak nampak batang hidungnya. Rupanya ia lebih suka mendekam dalam rumah. "Trauma dengan bunyi letusan balon, " Ujar ibunya. "Oo.. masak sich suara balon bisa bikin trauma? Bagaimana bisa?

Sama seperti reaksi kebanyakan orang ketika cintanya diputus sepihak:
tidak mampu mengontrol emosi, tubuh, perilaku dan pikiran. Merasa nggak nyaman, dan meluapkan dengan kemarahan nggak jelas lalu kabur dari rumah. Atau malah menjadi pusing bila mengingat kejadian itu. Reaksi negatif yang berakibat pada kehidupan sosialnya.

Juga dalam cerita buku Temanku Teroris? karya Nur  Huda Ismail .

Ketika sipenulis bertemu Alif , Si bocah alami trauma berkepanjangan mengingat ayahnya jadi salah seorang korban Bom Bali I. Atau peristiwa 11 September yang meluluh lantakkan gedung kembar World Trade Center, di pusat kota tersibuk di Amerika serikat. Walau lebih satu dasa warsa belum tentu menyembuhkan trauma keluarga, saudara bahkan kekasih hampir 3.000 korban peledakan itu. Mereka hanya meletakkan karangan bunga di Zero Ground, mungkin mereka masih seperti NaZya kecil jika mengingatnya.

Suatu trauma bisa saja berawal dariperistiwa kecil atau kadang dianggap remeh. Tapi karena membekas diotak dan dihati, peristiwa itu menjadi besar. Dunia seakan ikut menangis.

Apa yang mereka alami dan rasakan lebih kurang sama. Hanya membangkitkan kesadaran diri untuk melawan trauma itu yang yang berbeda, karena kuatnya kungkungan situasi dan cara berpikir mereka.

Demikaian halnya aku. Ketika ingin membangun kesadaran diri, aku lebih suka mundur atau menarik diri dari situasi itu. Kalau perlu ngumpet aja atau meratap di suatu tempat untuk cooling down. Nangis atau teriak-teriak, nggak masalah. Ketika waktunya tepat, aku akan keluar dari persembunyian. Dan menyatakan siap berjabat tangan dengan trauma. So, let's finish. Deal?